Thâifah Zhâhirah

Istilah thâifah zhâhirah dibentuk dari kata thâifah dan zhâhirah. Kata zhâhirah menjadi sifat dari thâifah. Terkait dengan kata thâifah, al-Jauhari di dalam Ash-Shihâh fî al-Lughah dan Zainuddin ar-Razi di dalam Mukhtâr ash-Shihâh menyatakan: ath-thâifah min asy-syay’: al-qith’ah minhu (thâifah dari sesuatu adalah potongan dari sesuatu itu). Menurut Dr. Sa’di Abu Habib dalam Al-Qâmûsh al-Fiqhî, sebutan itu berlaku baik potongan itu berjumlah sedikit atau banyak. Al-Khalil bin Ahmad di dalam Al-‘Ayn mengatakan, “ba’dh kulli syay’in: thâifah minhu (sebagian dari semua hal adalah thâifah darinya).

Abu Hilal al-‘Askari di dalam Al-Furûq al-Lughâwiyah menjelaskan, thâifah pada asalnya adalah jamaah yang keadaannya berkeliling di negeri karena perjalanan. Bisa juga asalnya adalah jamaah yang memiliki kelompok yang menjadi poros. Kemudian penggunaannya diperluas sehingga semua jamaah disebut thâifah. Ibn Manzhur di dalam Lisân al-‘Arab di antaranya juga mengatakan, “Di dalam hadis “la tazâlu thâifah min ummatî ‘alâ al-haq”, thâifah adalah al-jamaah min an-nâs (thâifah adalah kelompok dari manusia).”

Adapun kata zhâhirah maknanya adalah menang dan mendapat pertolongan. Dengan demikian secara harfiah, thâifah zhâhirah artinya kelompok yang mendapat pertolongan atau kelompok yang menang.

Terdapat banyak hadis yang menjelaskan ath-thâifah azh-zhâhirah. Beberapa hadis berikut kiranya bisa mewakili.

Tsauban menuturkan bahwa Rasul saw. pernah bersabda:

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الْحَقِّ، ظَاهِرِينَ، لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ يَخْذُلُهُمْ ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ

Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang tegak di atas kebenaran, mereka menang. Orang-orang yang merendahkan mereka tidak akan memadaratkan mereka hingga datang ketentuan Allah (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibn Majah).

Nabi saw. juga bersabda:

لاَ تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يُقَاتِلُونَ عَلَى الْحَقِّ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ نَاوَأَهُمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Akan ada kelompok dari kaum Muslim berperang di atas kebenaran; mereka menang atas orang yang memusuhi mereka hingga Hari Kiamat (HR Muslim).

Uqbah bin Amir juga menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

لاَ تَزَالُ عِصَابَةٌ مِنْ أُمَّتِي يُقَاتِلُونَ عَلَى أَمْرِ اللهِ قَاهِرِينَ لِعَدُوِّهِمْ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ وَهُمْ عَلَى ذَلِكَ

Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang berperang di atas ketentuan Allah; mereka menang atas musuh mereka. Orang yang menyalahi mereka tidak akan memadaratkan mereka hingga datang kepada mereka Hari Kiamat dan mereka tetap di atas yang demikian (HR Muslim).

Beberapa hadis senada antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim dari penuturan Muawiyah, oleh Abu Dawud dari penuturan Imran bin Hushain dan oleh Ahmad dari penuturan Abu Umamah.

Ulama berbeda pendapat tentang siapa thâifah zhâhirah itu. Menurut Imam al-Bukhari mereka adalah ahli ilmu. Menurut Ali bin al-Madini mereka adalah ahlul hadis serta orang-orang yang mengadopsi mazhab Rasul dan menjaga ilmu. Ahmad bin Hanbal, ketika ditanya siapakah thâifah zhâhirah, menjawab, “Jika bukan ahlul hadis saya tidak tahu lagi siapa mereka?”

Menurut Qadhi Iyadh yang dimaksudkan oleh Imam Ahmad tidak lain adalah ahlus sunnah wal jamaah dan orang yang meyakini mazhab ahlul hadis. Imam an-Nawawi menyatakan, “Bisa saja thâifah itu terpencar di antara berbagai kalangan kaum Mukmin; di antaranya para pemberani yang berperang, para fukaha, para ahli hadis, orang-orang zuhud, mereka yang melakukan amar makruf nahi mungkar dan ahli kebaikan lainnya. Tidak mesti mereka berkumpul, tetapi mereka bisa berpencar di berbagai penjuru bumi.”

Jika kita menelaah hadis-hadis tentang thâifah zhâhirah ini, tampak bahwa hadis-hadis itu tidak menyebut kelompok tertentu, melainkan memaparkan sifat-sifatnya, di antara adalah:

  1. Ia adalah bagian dari umat, yakni kelompok (thâifah/jamaah), bukan umat secara keseluruhan.
  2. Jamaah itu istiqamah di atas kebenaran, yaitu istiqamah di atas Islam.
  3. Kelompok itu berperang di atas Islam.
  4. Memiliki kekuatan untuk memerangi pasukan musuh dan mengalahkannya dan menang secara gemilang.
  5. Thâifah itu berperang di pintu-pintu Damaskus dan sekitarnya dan di pintu-pintu Baitul Maqdis dan sekitarnya. Jadi, mereka memerangi musuh dan mengalahkan mereka di daerah-daerah negeri Syam dan sekitarnya.

Sifat-sifat tersebut menjelaskan bahwa ath-thâifah azh-zhâhirah itu tegak di atas Islam, berperang di jalannya, memiliki kekuatan yang memungkinkannya mengalahkan musuh secara telak dan memperoleh kemenangan gemilang. Adapun musuh itu di antaranya adalah negara dan militernya. Thaifah yang bisa mengalah-kannya secara telak harus juga berupa militer Muslim yang kuat di Daulah Islam, dipimpin oleh Khalifah atau panglima pasukan; militer Muslim itu memerangi musuh, mengalahkan-nya dan memperoleh kemenangan gemilang. Thâifah itu bertolak dari negeri Syam dan sekitarnya, mendirikan Daulah dan militer serta memerangi musuh, mengalahkannya dan menang secara gemilang. Artinya, thâifah itu adalah punggawa Daulah Islam dan militernya yang mengalahkan musuh dengan gemilang; atau thâifah itu berjuang mendirikan Daulah Islam dan militernya hingga nanti bisa mengalahkan musuh dan menang dengan gemilang.

Dengan deskripsi tersebut kita bisa menunjuk thâifah zhâhirah itu di antaranya adalah Rasul beserta para Sahabat, Quthus dengan pasukannya yang mengalahkan Tatar, Shalahuddin al-Ayubi dan pasukannya yang menggilas Pasukan Salib, Muhammad al-Fatih dan pasukannya yang membebaskan Konstantinopel dan yang lainnya.

Ketika daulah tidak ada maka mereka yang berjuang mewujudkan prasyarat thâifah zhâhirah, yaitu tegaknya Daulah Islam atau Khilafah, bisa juga dimasukkan sebagai bagian dari thâifah zhâhirah itu untuk saat ini.

Menyikapi Hadis Thâifah Zhâhirah

Urgensi yang ada bukanlah tentang justifikasi bahwa jamaah anu adalah thâifah zhâhirah sedangkan jamaah lainnya bukan. Bukan itu urgensinya. Hadis ini tidak menyebutkan siapa, melainkan menyebutkan dan menjelaskan sifat dan karakternya.

Sikap terhadap hadis thâifah zhâhirah haruslah seperti yang dilakukan para Sahabat, tâbi’în dan atbâ’ at-tâbi’în dalam menyikapi hadis yang berisi berita tentang kebaikan bagi kaum Muslim. Saat mereka mendengar hadis penaklukan Konstantinopel maka mereka, sampai yang tua sekalipun seperti Abu Ayyub al-Anshari, berusaha semaksimal mungkin agar kemuliaan itu berhasil terwujud melalui tangan mereka. Para khalifah pun silih berganti mengirimkan pasukan untuk meraih kemuliaan itu, hingga terealisasi oleh Muhammad al-Fatih.

Hadis ini telah menjelaskan sifat-sifat dan keutamaan thâifah zhâhirah, bahwa ia tegak dan istiqamah di atas kebenaran, yaitu Islam. Ia akan memerangi musuh, mengalahkannya dan meraih kemenangan gemilang. Itu tidak bisa kecuali dengan adanya Daulah Islamiyah, yaitu Khilafah, dan militer Muslim yang mampu mengalahkan negara-negara kafir dan militernya.

Jadi, urgensi yang ada adalah, siapa dari kita yang ingin menjadi bagian dari thâifah zhâhirah itu hendaknya merealisasikan sifat-sifat dan prasyaratnya. Hendaknya ia tegak dan istiqamah di atas Islam, memperjuangkan dan membelanya. Hendaknya ia berjuang dengan penuh kesungguhan dan segenap daya untuk mewujudkan Daulah Islamiyah, yaitu Khilafah.

Wallâh a’lam bi ash-shawâb. [Yahya Abdurrahman]

Leave a Reply