Skip to content
Visi Muslim Media
Visi Muslim Media

Referensi Islam Kaffah

  • Home
  • Soal Jawab
  • Ta’rifat
  • Hadits
  • Khazanah
  • Tafsir
  • Sosok
  • Nafsiyah
  • Syariah
  • Sirah
  • Zikir dan Doa
Visi Muslim Media

Referensi Islam Kaffah

memahami politik, informasi politik, mengikuti berita

Prasyarat Pemahaman Politik dan Perumusan Kebijakan (1)

Posted on February 5, 2026February 18, 2026 By admin

Pendahuluan

Politik berarti mengurus urusan-urusan. Oleh karena itu, setiap manusia adalah politisi; sebab setiap manusia mengurus urusan dirinya sendiri, atau urusan orang-orang yang berada dalam tanggungannya. Namun, pikiran tidak tertuju pada realitas ini ketika kata “politisi” diucapkan, karena orang yang hanya mengurus urusan dirinya sendiri, pengaruhnya tidak melampaui urusannya, dan pemikirannya tidak melampaui kebutuhannya. Justru ketika kata politisi disebutkan, pikiran tertuju kepada mereka yang mengurus urusan umatnya, atau negaranya, atau lebih dari itu. Mereka itulah para politisi yang pengaruhnya mencakup umatnya, atau negaranya, atau lebih dari itu.

Politik sering digambarkan sebagai seni kemungkinan. Gambaran ini benar dari satu sisi, dan salah dari sisi yang lain. Jika yang dimaksud dengan kemungkinan adalah lawan dari kemustahilan atau kewajiban, maka gambaran itu benar, karena politisi tidak berkutat dengan hal yang mustahil. Namun jika yang dimaksud adalah bahwa politisi berurusan dengan realitas dan berangkat dari kemungkinan-kemungkinan yang ada secara faktual, yakni bersikap realistis, maka gambaran ini keliru. Bahkan, tipe politisi seperti ini berbahaya bagi umatnya apabila mereka memegang kendali urusan. Kebijakan-kebijakan mereka hanya menimba dari realitas, dan pandangan mereka tidak melampaui realitas yang ada. Jika realitas yang ada di tengah umat tersebut merupakan buatan musuh-musuhnya, maka mereka tidak akan mampu keluar dari sangkar yang dibuat musuh-musuhnya. Dan jika realitas itu merupakan buatan mereka sendiri, maka mereka tidak akan mampu maju dengannya dan menjaga kebaikannya, bahkan justru akan mundur ke belakang.

Sesungguhnya para politisi yang mengangkat derajat umatnya adalah mereka yang melampaui ambang realitas yang sedang dijalani umatnya, lalu menggambarkan suatu realitas baru bagi umatnya yang dapat membangkitkannya, menjadikannya sebagai tujuan, serta merumuskan kebijakan-kebijakan yang mengantarkan mereka kepadanya. Allah ﷻ telah menggambarkan kepada kita sosok politisi yang mengurus urusan umatnya dan tidak terjebak dalam lumpur realitas yang rusak, yaitu pembawa dakwah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan apakah orang yang tadinya mati lalu Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang dengan cahaya itu dia berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang keadaannya berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?”
(QS. al-An‘am: 122)

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik dalam hal ini. Ketika beliau diutus, beliau diutus kepada suatu kaum yang saling bermegah-megahan satu sama lain dan saling menumpahkan darah, namun mereka tunduk dan hina di hadapan Persia dan Romawi. Rasulullah ﷺ mengajak mereka keluar dari realitas kehinaan dan kerendahan menuju realitas di mana mereka bertengger di singgasana dunia. Di antara peristiwa yang menunjukkan hal itu adalah ketika para pemuka Quraisy datang kepada Abu Thalib mengadukan Nabi Allah ﷺ. Abu Thalib pun bertanya kepada beliau, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai pamanku, aku menginginkan dari mereka satu kalimat, yang dengannya bangsa Arab tunduk kepada mereka dan bangsa non-Arab membayar jizyah kepada mereka.”
(Musnad Ahmad, no. 2008)

Seorang politisi yang berupaya mengurus urusan umatnya, negaranya, dan lebih dari itu, harus mampu merumuskan kebijakan agar dapat keluar dari kerangka pemahaman teoritis menuju pengaruh praktis. Untuk dapat merumuskan kebijakan, ia harus memiliki pemahaman politik terhadap peristiwa-peristiwa, pemahaman politik terhadap hubungan internasional, serta memiliki sudut pandang khusus dalam melihat dunia, yang di atasnya ia membangun kebijakan-kebijakannya.

Pemahaman politik merupakan keharusan bagi para penggerak kebangkitan, sebagaimana udara merupakan keharusan bagi manusia. Orang yang berjuang untuk kebangkitan di tengah umat Islam harus memandang dirinya berdasarkan apa yang akan terjadi kelak. Ia ingin menegakkan bagi umatnya sebuah negara yang mengemban suatu prinsip, di mana negara ini berupaya menjadi negara besar, kemudian bertengger di singgasana dunia, menjadi negara nomor satu di dunia, hingga kekuasaan umat ini mencapai sejauh yang Allah bentangkan bagi Rasul-Nya ﷺ dari bumi ini.

Untuk mewujudkan hal tersebut, seorang Muslim harus bersungguh-sungguh menempuh sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu terkait dengan keterikatannya pada metode syar‘i yang mengantarkan pada penegakan negaranya, serta kesungguhannya dalam mempersiapkan dirinya dan kelompoknya agar negara yang ditegakkannya kelak mampu bersaing dengan negara-negara besar dunia, bahkan menyingkirkan mereka sebagaimana lembaran catatan digulung. Hal ini tidak akan terwujud kecuali apabila pemahaman politik orang yang berjuang untuk kebangkitan dibangun di atas fondasi yang kokoh, sehingga menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang benar. Jika tidak, maka hasilnya hanyalah ilusi dan khayalan yang membuatnya tidak mampu keluar dari sudut rumahnya untuk memimpin dunia.

Peralihan individu dari kondisi bekerja untuk kebangkitan menuju memimpin dunia dan mengaturnya dengan Islam menuntut kemampuan merumuskan kebijakan yang terkait dengannya dengan baik. Hal ini tidak akan tercapai kecuali dengan pemahaman politik yang benar, pemilihan tujuan yang tepat, pemilihan aktivitas yang mengantarkan kepada tujuan tersebut, serta mengaitkan aktivitas itu dengan tujuan secara sebab-akibat. Oleh karena itu, menjadi keharusan untuk meletakkan fondasi-fondasi penting yang membuka cakrawala bagi siapa saja yang merasa memiliki kemampuan untuk menekuni bidang ini.

Memahami fondasi-fondasi yang diperlukan bagi pemahaman politik saja tidak cukup untuk menguasai bidang ini. Mengikuti perkembangan dan berlatih secara terus-menerus merupakan pilar dalam bangunan ini hingga terbentuk keahlian. Pembelajaran tidak datang dalam sekejap, melainkan membutuhkan latihan, kesabaran, keteguhan, dan kemauan. Belajar setelah adanya kebutuhan lebih memungkinkan ilmu itu melekat dalam pikiran dan menetap di dada, serta menjadikan pembelajar sebagai pelaku yang sadar. Berbeda dengan belajar tanpa tujuan atau kebutuhan, yang membuat seseorang seperti orang yang menenun lalu mengurai kembali tenunannya, menanam namun tidak memetik hasil tanamannya hingga tanamannya menguning dan dirusak hama.

Artikel-artikel ini menyoroti realitas pemahaman dan analisis politik, realitas kesadaran politik, serta realitas perumusan kebijakan, berikut informasi-informasi politik yang menyertainya. Pembacanya harus menyadari bahwa ia tidak akan menjadi politisi hanya dengan membacanya, melainkan menjadi politisi jika ia mengambil darinya apa yang bermanfaat, lalu menekuni pemantauan, pemahaman, kesadaran, dan pengaruh.

Karya ini aku persembahkan kepada umat Islam, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, khususnya kepada para pembawa dakwah yang bersungguh-sungguh memperjuangkan kebangkitan, dan lebih khusus lagi kepada para pemuda yang masih belia yang sedang meraba jalan pemahaman politik yang benar. Aku berharap setiap pembaca artikel-artikel ini tidak menjadikannya sekadar sarana untuk menjadi analis politik belaka, karena hal itu tidak memberinya pengaruh nyata dalam kehidupan, dan orang yang bertanya kepadanya pun tidak melakukannya kecuali karena rasa ingin tahu semata. Aku berharap setiap pembacanya menjadikannya sebagai sarana untuk meningkatkan taraf berpikir umat, menjadikannya sebagai alat bimbingan, agar dengannya ia memahami realitas politik secara benar, memandangnya dari sudut pandang akidah Islam, dan mengurus urusan manusia. Allah-lah yang memberi petunjuk ke jalan yang lurus.

Analisis Politik

Analisis politik merupakan keharusan bagi siapa saja yang ingin memahami realitas politik untuk dapat berinteraksi dengannya, dan merupakan keharusan bagi perumus kebijakan. Oleh karena itu, analisis politik sangat penting bagi kelompok yang bekerja untuk kebangkitan umat, dan juga merupakan keharusan bagi negara. Kebenaran analisis politik melindungi kelompok, negara, dan umat dari bahaya yang mengitarinya, serta memungkinkan mereka mengambil kebijakan yang dapat menolak bahaya, menggagalkan makar musuh, atau membantu mencapai tujuan-tujuan mereka.

Analisis politik adalah proses menghasilkan opini politik terhadap peristiwa-peristiwa politik yang terus berkembang. Ia bertumpu pada informasi politik dan proses pengaitan. Analisis politik dilakukan melalui pemahaman realitas politik, bukan dengan membiarkan pikiran berkelana bebas menggambarkan setiap kemungkinan yang berkaitan dengan suatu berita atau peristiwa. Jika pikiran dibiarkan bebas, ia akan keluar dari kerangka analisis politik menuju ranah imajinasi, spekulasi, dan penalaran logis semata, dan pola seperti ini tidak akan mengantarkan kepada kesimpulan yang benar.

Sebaliknya, apabila pemahaman terikat dengan konsep-konsep politik yang benar, maka ia akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Hal itu karena politik adalah tindakan para politisi, yang dibangun di atas visi dan orientasi negara-negara mereka, serta karakter yang terbentuk sepanjang sejarah mereka. Berdasarkan itu, memahami realitas para politisi, sifat visi dan orientasi negara mereka, karakter yang mereka miliki, serta sifat peristiwa yang terjadi, lalu mengaitkannya secara benar berdasarkan konsep-konsep politik yang benar, merupakan pemahaman, bukan spekulasi atau khayalan. Ia adalah penyusunan gambaran utuh melalui penggabungan bagian-bagian kecil penyusunnya dalam suatu kerangka yang jelas. Dengan demikian, jika sebagian bagian kecil itu hilang, sifatnya dapat ditelusuri dengan melihat bagian-bagian yang berdekatan dengannya dalam gambar, sehingga terbentuk gambaran utuh dalam pikiran. Inilah yang disebut analisis politik.

Agar analisis politik terwujud, diperlukan tiga unsur: informasi politik, kesinambungan dalam mengikuti berita politik, dan ketepatan dalam memilih berita politik. Hizbut Tahrir telah menjelaskan topik ini secara rinci dalam sebuah buletin tertanggal 27/3/1974 dengan judul “Politik dan Politik Internasional”. Di dalamnya disebutkan bahwa informasi politik adalah informasi sejarah, khususnya fakta-fakta sejarah; informasi tentang peristiwa, tindakan, dan tokoh-tokoh dari sudut pandang politik; serta informasi tentang hubungan politik, baik antarindividu, antarnegara, maupun antaride. Informasi-informasi inilah yang menyingkap makna pemikiran politik, baik berupa berita, tindakan, kaidah, akidah, maupun hukum. Tanpa informasi ini, seseorang tidak akan mampu memahami pemikiran politik meskipun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusaan, karena persoalannya adalah persoalan pemahaman, bukan persoalan akal semata.

Adapun mengetahui berita-berita yang sedang berlangsung, khususnya berita politik, karena ia merupakan informasi, merupakan berita tentang peristiwa yang sedang terjadi, dan merupakan objek pemahaman dan penelitian, maka harus diketahui. Karena peristiwa-peristiwa kehidupan pasti berubah, baru, berbeda, dan saling bertentangan, maka harus ada kesinambungan dalam mengikutinya agar tetap mengetahui perkembangannya. Artinya, agar seseorang tetap berdiri di stasiun kereta yang memang sedang dilalui kereta, bukan berdiri di stasiun yang dulu dilalui kereta satu jam yang lalu lalu berubah jalurnya ke stasiun lain. Oleh karena itu, harus ada kesinambungan dalam mengikuti berita secara wajib dan berkelanjutan, sehingga tidak terlewatkan satu pun berita, baik yang penting maupun yang sepele. Bahkan seseorang harus bersedia menanggung lelah mencari sebutir gandum di tumpukan jerami, dan mungkin tidak menemukannya, karena ia tidak tahu kapan berita penting akan datang dan kapan tidak. Oleh sebab itu, ia harus mengikuti semua berita, baik yang dianggap penting maupun tidak, karena berita-berita itu merupakan mata rantai yang saling terkait. Jika satu mata rantai hilang, rantai itu terputus, sehingga sulit baginya memahami persoalan, bahkan bisa jadi ia memahaminya secara keliru dan mengaitkan realitas dengan berita atau pemikiran yang telah berlalu dan tidak lagi ada. Oleh karena itu, mengikuti berita secara berkelanjutan merupakan keharusan agar dapat memahami politik.

Adapun pemilihan berita, hal itu dilakukan dengan mengambilnya, bukan sekadar mendengarnya. Ia hanya mengambil berita yang penting. Jika ia mendengar bahwa Perdana Menteri Prancis bepergian ke London, ia mendengarnya dan mengambilnya. Namun jika ia mendengar bahwa Kanselir Jerman bepergian ke Berlin, atau ke Washington, atau bertemu dengan Sekretaris Jenderal PBB, ia mendengarnya tetapi tidak mengambilnya. Ia harus membedakan antara berita yang diambil dan yang tidak diambil, meskipun ia mendengar semua berita. Karena pengambilan hanya dilakukan terhadap berita yang bermanfaat jika diambil, bukan terhadap selainnya meskipun ia mengandung informasi. Inilah yang dimaksud dengan mengikuti berita untuk diambil, bukan sekadar didengar. Selesai.

Berita-berita diambil dari surat kabar yang kredibel dan saluran-saluran yang terhormat, karena surat kabar dan saluran tersebut berusaha menjaga kredibilitasnya di mata masyarakat, khususnya di mata para politisi. Ketika mereka menghimpun berita dan menyusun artikel, mereka berusaha berkomunikasi dengan para pelaku peristiwa dan pihak-pihak yang terlibat langsung, serta mengambil informasi dari sumber-sumbernya. Meski demikian, tidak boleh begitu saja menerima kebenaran berita, karena para politisi yang terlibat dalam peristiwa sering kali bermaksud menyesatkan, baik untuk mendukung orientasi mereka, menyembunyikan tujuan mereka, maupun menutup peluang bagi musuh-musuh mereka. Oleh karena itu, menjadi keharusan bagi pengikut berita untuk menelusuri ucapan dan tindakan, konteks di mana ucapan itu disampaikan, mengenali siapa yang berkata dan bertindak, serta mengaitkannya dengan konsep-konsep yang dimilikinya, sehingga terbentuk dalam pikiran realitas berita tersebut, apakah benar atau menyesatkan.

Berita juga diambil langsung dari lisan para politisi itu sendiri, baik para pemimpin, menteri luar negeri, juru bicara negara, maupun mereka yang bekerja di bidang keamanan nasional. Pengikut berita harus memberi perhatian untuk menelusuri latar belakang orang-orang tersebut, atau orang-orang yang diutus negara mereka untuk menjalankan misi politik, militer, atau intelijen yang terkait. Riwayat hidup mereka harus diketahui agar tidak kehilangan salah satu unsur pembentuk gambaran utuh.

Meskipun analisis politik penting, ia bukan tujuan pada dirinya sendiri, melainkan sarana untuk suatu tujuan. Oleh karena itu, para pejuang kebangkitan dan para pengelola negara wajib menggunakan analisis politik dan membiasakan diri dengannya karena manfaatnya dalam pekerjaan mereka. Setiap pejuang kebangkitan umatnya harus memandang kelompoknya sebagai pemimpin perubahan yang kelak bersifat global, memandang umatnya sebagai umat yang kekuasaannya akan mencapai sejauh yang Allah bentangkan bagi Rasul-Nya ﷺ dari bumi, dan memandang negaranya sebagai negara yang akan menjadi yang pertama di dunia, kemudian menjadi satu-satunya di dunia. Bersambung…

Oleh : Luqman Harzallah – Palestina

Sumber : Al Waie

Post Views: 152
Khazanah islamislam politikkhilafahpolitik

Post navigation

Previous post
Next post

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Popular Posts

  • Silsilah Nasab Anak-Anak Nabi Ismail Alaihis-Salam
  • Makna “Antum A’lamu Bi Amri Dunyakum”
  • Menghidupkan Tanah Mati
  • Peringatan Bagi Pemburu Dunia
  • ‘Ashabiyah: Haram dan Menjijikkan
  • Makna Hadits Setiap 100 Tahun Akan Ada Mujadid
  • Apa yang Dimaksud dengan Zat Allah?
  • Lâ Tabi’ Mâ Laysa ‘Indaka -Jangan Engkau Jual Apa yang Bukan Milikmu-
  • Akhlak Rasulullah ﷺ
  • Penguasa Ruwaibidhah dalam Hadits Nabi
  • Kewajiban Memuliakan Wanita
  • Prasyarat Pemahaman Politik dan Perumusan Kebijakan (6)- Selesai
  • Prasyarat Pemahaman Politik dan Perumusan Kebijakan (4)
  • Kedudukan Al-Quran Dihadapan Kitab-Kitab Suci yang Lain
  • Janji Allah: Khilafah Akan Segera Tegak Kembali
©2026 Visi Muslim Media | WordPress Theme by SuperbThemes