Ketika timbangan menjadi goncang dan berbagai konsep bercampur-baur, manusia mencari standar yang tetap untuk menimbang jalannya antara benar dan salah, antara keadilan dan hawa nafsu. Pengalaman bangsa-bangsa dahulu dan kini telah membuktikan bahwa kemenangan tidak dibangun dengan kekuatan semata, tidak pula dengan banyaknya jumlah, dan tidak pula dengan berubah-ubahnya sikap mengikuti kepentingan. Kemenangan lahir ketika manusia bersandar pada prinsip yang lurus, yang tidak berubah karena perubahan keadaan. Prinsip ini dalam pandangan Islam adalah kebenaran yang Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia, yaitu Islam dengan manhajnya yang menyeluruh yang menggabungkan akidah, keadilan, dan amal.
Kebenaran dalam Islam bukanlah sekadar gagasan teoritis yang diucapkan di masa damai lalu ditinggalkan saat kesulitan, melainkan jalan hidup yang utuh yang menguji kejujuran para pengikutnya ketika jalan menyempit dan ujian menguat. Sejarah berulang kali menunjukkan bahwa umat yang berpegang teguh pada agamanya dan berjalan dengan mantap di atas nilainya tidak akan hancur walau tergelincir, dan tidak akan tersesat walau penantian panjang; karena keteguhan di atas kebenaran memberinya kekuatan moral yang melampaui batas senjata dan harta. Iman yang kokoh melahirkan kejelasan tujuan, kesatuan barisan, dan kesiapan berkorban; dan semuanya adalah pendahuluan bagi kemenangan yang hakiki.
Dari sinilah, keteguhan di atas Islam bukan sekadar sikap ibadah semata, melainkan proyek kebangkitan dan pembangunan masa depan. Kemenangan-kemenangan besar bukanlah hasil dari semangat sesaat, tetapi buah dari kesabaran panjang atas prinsip, kepercayaan terhadap janji Allah, dan tekad untuk berjalan di jalan yang lurus meskipun godaan banyak dan tekanan berat. Kebenaran, jika diemban dengan kejujuran dan disertai kesabaran atas konsekuensinya, berubah dari akidah di dalam hati menjadi kekuatan yang mengubah jalannya sejarah.
Sebelum berdirinya negara Islam, kaum Muslimin di Makkah tidak memiliki kekuasaan maupun kekuatan materi; mereka adalah minoritas yang tertindas menghadapi tekanan sosial, ekonomi, dan siksaan fisik yang berat. Namun Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya memberikan teladan agung dalam keteguhan di atas kebenaran, hingga keteguhan itu sendiri menjadi dasar kemenangan yang terwujud kemudian setelah berdirinya negara di Madinah. Di antaranya secara singkat:
- Keteguhan Nabi ﷺ di hadapan rayuan dan ancaman: Orang-orang kafir Quraisy menawarinya harta, kekuasaan, dan kedudukan agar meninggalkan dakwahnya, lalu beralih kepada ancaman dan pemboikotan. Namun beliau menyatakan sikapnya dengan tegas kepada pamannya:
“Wahai pamanku, seandainya mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini sampai Allah memenangkannya atau aku binasa karenanya, niscaya aku tidak akan meninggalkannya.”
Dengan itu beliau menegaskan bahwa kebenaran tidak dapat ditawar, dan dakwah berdiri di atas prinsip, bukan kepentingan. - Kesabaran para sahabat tampak pada kesabaran keluarga Yasir di bawah siksaan, keteguhan kaum tertindas, hijrah ke Habasyah sebagai bentuk keteguhan dengan hikmah, bukan konfrontasi, pengorbanan kehormatan dan harta seperti Mush‘ab bin ‘Umair, serta pengorbanan kedudukan sosial seperti Abu Bakar ash-Shiddiq.
Dari fase sebelum negara ini terbukti bahwa kemenangan tidak dimulai dengan pedang dan kekuasaan, tetapi dengan laki-laki dan perempuan yang teguh ketika keteguhan adalah pilihan yang paling sulit. Ketika prinsip tertanam kuat di hati, negara pun datang sebagai hasil alami dari kesabaran panjang itu. Manusia akan berkumpul di sekitar orang yang tidak mengubah sikapnya mengikuti kepentingan; karena lawan sering bertaruh pada runtuhnya para pembela kebenaran seiring waktu. Jika mereka bertahan, maka persamaan pun berubah.
Kesabaran adalah perjalanan panjang; hasilnya bisa tertunda dan ujian bisa menguat. Namun sejarah menyaksikan bahwa perkara yang para pengikutnya teguh di atas prinsip dengan kesadaran, kesabaran, dan perencanaanlah yang pada akhirnya menang.
Tiga Golongan Manusia dalam Keteguhan
Golongan pertama: Mereka yang berpegang pada syariat Allah dengan pemahaman yang benar, menanggung kesulitan yang menimpa mereka. Berpegang pada prinsip adalah jalan keselamatan bagi mereka. Mereka adalah pelaku perubahan mendasar dan pengembalian Islam ke dalam kehidupan.
Golongan kedua: Mereka yang berpegang hingga bersifat fanatik, sampai pada sikap ekstrem dan berlebihan dalam agama tanpa pemahaman yang benar terhadap nash-nash syar‘i, sehingga menuai banyak kritik dan membuat orang menjauh dari sikap berlebihan itu.
Golongan ketiga: Mereka yang berpegang pada prinsip sesuai kondisi dan kebutuhan; berpegang sehari lalu meninggalkannya ketika keadaan berubah, dengan banyak alasan. Mereka tidak dapat dipercaya dan bahkan lebih berbahaya daripada orang yang tidak memiliki prinsip.
Perbedaan Prinsip dan Pendapat
Ada kekeliruan antara prinsip dan pendapat. Sebagian mengira keteguhan pada prinsip hanyalah kebodohan usang. Ini terjadi karena tidak mampu membedakan keduanya.
Pendapat adalah ijtihad manusia atau penilaian pribadi dalam memahami dan menghadapi realitas; ia bisa berubah, terpengaruh informasi baru, berbeda antara satu orang dengan yang lain, dan tidak layak diperjuangkan hingga pengorbanan mutlak.
Prinsip adalah dasar tetap bagi cara berpikir dan berperilaku; tidak berubah karena kepentingan atau keadaan karena terkait dengan keyakinan mendalam atau rujukan tertinggi. Ia mengarahkan keputusan, bukan sebaliknya. Prinsip adalah akidah rasional yang darinya lahir sistem.
Pendapat memilih jalan; prinsip menentukan tujuan. Jika pendapat berubah, perjalanan tetap ada. Tetapi jika prinsip hilang, maka hilanglah seluruh perjalanan.
Pilar-Pilar Keteguhan
Keteguhan bukan perasaan sesaat, melainkan bangunan utuh yang berdiri di atas fondasi pemikiran, spiritual, dan amal:
- Kejelasan prinsip: Mengetahui mengapa harus teguh. Tanpa pemahaman, seseorang akan mundur saat ujian pertama.
- Keyakinan batin (yaqin): Kekuatan yang membuat keteguhan mungkin. Bukan sekadar dugaan, tetapi kepastian.
- Kesiapan berkorban: Tidak ada keteguhan tanpa harga.
- Kepemimpinan atau teladan: Arah menjadi jelas saat fitnah.
- Komunitas pendukung: Jamaah memberi kekuatan tambahan.
- Kesabaran waktu: Bahaya terbesar adalah tergesa-gesa terhadap hasil.
Di akhir perjalanan, yang tersisa bukanlah kebisingan slogan yang lahir dari kepentingan atau ketakutan, melainkan apa yang dibangun di atas kebenaran. Sejarah tidak selalu memihak yang paling kuat senjatanya atau paling banyak jumlahnya, tetapi kepada mereka yang tahu mengapa mereka berjalan; yang tetap teguh ketika yang lain mundur, bersabar ketika yang lain tergesa, dan memikul prinsip sebagai amanah, bukan beban.
Keteguhan dalam menerapkan syariat bukanlah kekakuan terhadap realitas, melainkan visi di tengah badai. Kemenangan sejati tidak dimulai ketika kota-kota dibuka atau panji-panji dikibarkan, tetapi ketika manusia mengalahkan rasa takut, hawa nafsu, dan keraguannya, lalu memilih setia pada apa yang ia yakini.
Demikian sunnatullah pada umat-umat: bila hati baik, jalan menjadi lurus; bila jalan lurus, datanglah pertolongan pada waktu yang Allah kehendaki, bukan yang manusia tergesa-gesa.
Bukan penantian pasif, melainkan amal, sabar, dan yakin yang melangkah sedikit demi sedikit hingga gagasan menjadi kenyataan, kesabaran menjadi kemenangan, dan janji menjadi fakta yang dilihat semua orang setelah sebelumnya diyakini oleh sedikit orang.
Barang siapa menginginkan kemenangan, hendaklah ia mencarinya terlebih dahulu di dalam dirinya: pada keikhlasan niatnya, pada kejelasan prinsipnya, dan pada keyakinannya bahwa kebenaran, meskipun terlambat tampak, tidak pernah kalah.
Carilah orang-orang yang jujur, dan jadilah bagian dari mereka.
Oleh : Nabil Abdul Karim
Sumber : HT Info