Meskipun jumlah Muslim mendekati dua miliar—sebuah angka yang meningkat sangat cepat—dan meskipun mereka memiliki tentara terkuat, paling lengkap peralatannya, dan paling berani, serta tanah tersubur dan kekayaan terkaya, umat Islam tidak memiliki kemauan politik dan kekuatan yang diperlukan untuk menghentikan kolonialisme atau bahkan bentuk ketidakadilan yang paling sederhana sekalipun.
Sebabnya adalah bahwa kekuatan sejati tidak bersumber dari kekayaan, melainkan dari kepemimpinan. Kenyataannya, umat Islam terhukum dengan kondisi ini; keistimewaan, potensi, dan harapan mereka telah dirampas. Mereka dihalangi untuk meraih kesuksesan yang terjamin di dunia dan akhirat melalui slogan-slogan kosong dan sofisme politik yang dipromosikan oleh para pemimpin politik yang korup, tiran, kriminal, pengidap megalomania, serta penjaga Barat kafir. Mereka menghiasi diri dengan citra palsu yang dibesar-besarkan, bahkan bangga dengan kedekatan, kasih sayang, dan pelayanan mereka kepada musuh-musuh Islam dan kaum Muslimin.
Mari kita perjelas satu hal sejak awal: Kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan sebuah visi. Adapun pemimpin adalah orang yang merangkul visi ini dan mewujudkannya dalam kepribadiannya untuk menjadikannya petunjuk bagi diri sendiri dan orang lain. Ini berarti siapa pun yang tidak memiliki visi hakiki sama sekali tidak layak menjadi pemimpin. Umat ini tidak membutuhkan pemimpin sekadar nama, melainkan membutuhkan negarawan saleh yang mengemban visi kepemimpinan hakiki dan mewujudkannya.
Visi hakiki yang baku tidaklah ditetapkan kecuali oleh Allah SWT semata. Oleh karena itu, “visi” apa pun di luar kerangka Islam hanyalah imajinasi untuk memuaskan hawa nafsu dan keinginan pribadi, yang ujungnya adalah kegagalan. Dunia telah menyaksikan banyak bangsa, negara, dan prinsip yang kuat, namun semuanya binasa pada akhirnya. Hari ini, sistem global kapitalisme—yang meruntuhkan sistem hukum yang dulu ia klasifikasikan sebagai sistem yang baik, yang menganggap hanya kelompok kecil manusia yang layak mendapatkan keadilan, yang menghukum massa dengan kemiskinan sementara memberikan kekayaan kepada segelintir orang, dan memegang teguh moralitas hanya sejauh tidak menyentuh penyimpangan atau kepentingan materi (contoh terbaru adalah kasus Epstein), serta menganggap dirinya sebagai pemilik kesuksesan tertinggi dan abadi melalui monopoli hukum atas dunia—sistem ini sedang sekarat. Sistem kekufuran kolonial, yang bertahan hingga hari ini dengan mengonsumsi slogan-slogan gemilangnya sejak awal (seperti kebebasan, kesetaraan, hak asasi manusia, hak perempuan, hak anak, hukum internasional, dll.), tidak lagi memiliki modal untuk menipu kemanusiaan. Mereka yang memegang kemudi kapal di perairan tanpa jalan kembali, tidak mampu meninggalkannya setelah kandas. Mereka tidak memiliki apa pun untuk menyelamatkan diri, sehingga mereka menyerang siapa pun yang menghadapinya dengan keganasan yang belum pernah terlihat sebelumnya, layaknya binatang buas.
Sejarah manusia saksi bahwa ilusi tidak pernah berubah menjadi visi hakiki. Kepemimpinan yang dibangun di atas ilusi tersebut telah menghancurkan dirinya sendiri dan menggilas kemanusiaan di antara roda gigi lingkaran yang kosong. Puncak dari pencapaian mereka yang mengurus urusan manusia dengan kepemimpinan seperti itu adalah menjadi Firaun, Namrud, tiran, atau diktator; kemudian mereka semua binasa, mendapatkan murka Allah, dan sistem mereka hancur bersama mereka karena kurangnya visi hakiki.
Adapun visi hakiki yang baku dan sukses adalah Islam itu sendiri. Kesuksesan visi ini dijamin oleh Allah SWT. Ia tidak hanya membawa sebagian umat manusia menuju kedamaian dan ketenangan seperti yang dilakukan kapitalisme, tetapi membawa seluruh umat manusia. Ia tidak hanya mengangkat umat yang merangkulnya menuju kemajuan materi semata, tetapi juga kemajuan moral, kemanusiaan, budaya, dan ilmiah. Ia juga tidak membiarkan manusia terombang-ambing mencari alternatif yang berubah setiap dua hari, yang membawanya pada kehidupan yang cemas, tidak puas, dan tidak stabil; karena visi Ilahi ini selaras dengan fitrahnya.
Karena kesuksesan visi ini tidak terbatas pada dunia saja, melainkan membentang hingga keabadian di akhirat, maka mereka yang mengembannya adalah pemilik visi yang sesungguhnya. Pemilik visi sejati tidak merasa takut dan tidak dibatasi oleh batas-batas; mereka tidak menyerah pada rasa takut, dan tidak mengenal batas dalam dedikasi, kesabaran, serta ketekunan. Karena mereka tidak menganggap diri mereka sebagai pemilik otoritas, mereka tidak sombong, melainkan menjadi teladan yang baik dan pelopor dalam melayani Pemilik Otoritas yang sesungguhnya. Inilah yang membuat kehendak mereka kokoh tak tergoyahkan, dan jalan mereka menuju tujuan tidak dapat dinegosiasikan.
Mereka yang mengadopsi visi hakiki adalah pemilik visi sejati. Mereka tidak menjadi pemimpin karena karisma pribadi, uang, atau jaringan hubungan sosial; melainkan menjadi pemimpin sebagai hasil dari kepemimpinan ide yang bervisi yang mereka peluk. Mereka tidak saling bersaing, melainkan saling menyemangati, amar makruf nahi mungkar, mengambil kekuatan dari persatuan mereka, berpegang teguh pada tali Allah, dan mengajak orang lain untuk berpegang teguh padanya, sehingga mereka menjadi negarawan yang menjadi saksi yang terpercaya.
Kita dapat merangkum sifat-sifat yang membedakan kepemimpinan bervisi dengan kepemimpinan palsu—dan dengan demikian membedakan pemimpin yang amanah dengan penipu sombong yang menyamar sebagai pemimpin—sebagai berikut:
Kreativitas dan Inovasi: Mereka bukanlah peniru orang lain, melainkan pribadi-pribadi istimewa yang mampu menciptakan solusi dan konsep baru yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan bumi, menjamin pembangunan berkelanjutan dan kemajuan nyata, dengan kemampuan mengubah solusi ini menjadi kenyataan praktis. Kepemimpinan bervisi tidak dipengaruhi oleh waktu, orang, atau keadaan, melainkan dialah yang mempengaruhi tempat, segala sesuatu, dan setiap waktu. Oleh karena itu, mereka yang mengemban kepemimpinan ini telah memvisualisasikan maksud dan tujuan mereka dengan sangat jelas seolah-olah mereka memegangnya dengan tangan mereka sendiri; mereka menolak mentalitas dangkal yang dipaksakan, menantangnya, dan melampauinya. Berbeda dengan mereka yang mengejar keuntungan duniawi, pemilik kepemimpinan bervisi melakukan semua tindakan mereka atas dasar takwa kepada Allah, keikhlasan total, dan ihsan; mereka tidak menyusun rencana, dan tidak condong pada strategi atau jalan, kecuali dengan menghadirkan tanggung jawab penuh mereka di hadapan Allah, di hadapan kaum Muslimin, dan di hadapan seluruh umat manusia.
Firasat (Al-Farasah): Jenis kecerdasan tajam ini, yang terlihat pada pemilik pemikiran analitis yang mampu memahami hubungan yang kompleks dan bertingkat, meningkat pada diri seorang Muslim ke level yang sama sekali berbeda. Firasat hanya tumbuh pada mereka yang memandang dunia dengan cahaya Allah, dan ia jauh lebih dalam daripada sekadar visi jangka panjang biasa. Siapa pun yang melihat dengan cahaya Allah tidak akan puas dengan informasi dangkal atau jawaban singkat, melainkan selalu berusaha mendalami masalah dan menganalisisnya dengan visi yang tercerahkan. Ia mengevaluasi informasi yang diperoleh sesuai dengan timbangan yang ditetapkan oleh Tuhannya, kemudian mengambil keputusan dan melaksanakannya segera. Singkatnya: kerangka kerja bagi negarawan bervisi yang dibekali firasat hanya ditentukan oleh hukum-hukum syariat.
Bashirah (Wawasan yang Jelas): Memiliki tujuan yang jelas bukan berarti mereka terbatas pada solusi harian yang sementara, melainkan mereka adalah pribadi yang kokoh yang memiliki strategi kuat yang membawa mereka pada tujuan jangka panjang. Satu-satunya batasan bagi negarawan yang memiliki bashirah adalah rida Allah, dan tujuan tertingginya adalah menjadi orang-orang yang beruntung di akhirat. Ia tidak mengejar tujuan atau mengevaluasi kesuksesan kecuali sesuai standar kesuksesan di dunia dan akhirat yang ditentukan oleh Al-Qur’an, Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Berangkat dari visi ini, kegagalan seorang negarawan dalam mencapai maksud dan tujuannya dianggap sebagai kerugian terbesar, bahkan kebinasaan. Mereka memimpin dengan keteladanan melalui keseriusan, tekad, dan integritas mereka, sehingga memotivasi orang-orang di sekitar mereka dan mendorong mereka menuju tujuan tertinggi, serta memperingatkan mereka dengan keberanian akan bahaya yang mungkin menjauhkan mereka dari jalur tersebut. Padahal, seluruh umat manusia telah lelah dengan kerusakan dan kehancuran yang diakibatkan oleh mentalitas oportunistik yang memasarkan diri mereka sebagai “progresif” dalam sistem kapitalisme dan sistem kekufuran lainnya.
Penting untuk menjelaskan kembali perbedaan antara kepemimpinan (leadership) dan pemimpin (leader): Konsep kepemimpinan yang umum mengaitkannya dengan kepribadian karismatik yang memiliki pengaruh sosial dan finansial. Namun, Tuhan kita Allah SWT tidak menisbatkan sifat kepemimpinan bahkan kepada Rasul-Nya ﷺ, yang merupakan teladan yang baik (al-uswah al-hasanah). Benar, Dia menyifatkan beliau sebagai teladan yang baik dan rahmat bagi semesta alam, namun Dia SWT tidak menyifatkan kekasih-Nya ﷺ dengan sifat kepemimpinan (sebagai atribut personal semata), melainkan memperkenalkannya sebagai sosok yang paling menonjol dan paling layak diikuti dalam mengemban kepemimpinan bervisi yang Dia turunkan. “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu rasul-rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang?”
Ini berarti bahwa Allah SWT, Rabb semesta alam, ketika memerintahkan kita untuk mengikuti Nabi-Nya ﷺ, Dia memerintahkan kita untuk mengikutinya dalam cara beliau mengemban risalahnya; yaitu dalam kepemimpinan bervisi yang unik. Makna harfiah dari kata “Rasul” adalah: orang yang menyampaikan ucapan orang lain kepada orang lain persis seperti aslinya, tanpa memiliki hak untuk mengubah, mengganti, atau menakwilkan. Oleh karena itu, gelar Rasul adalah gelar yang diberikan Allah SWT kepada siapa pun yang Dia tugaskan dengan visi “memberi kabar gembira dan memberi peringatan kepada manusia”. Berdasarkan hal tersebut, para rasul mungkin mati atau terbunuh, tetapi risalah mereka tetap hidup hingga hari kiamat. Dan mereka yang beriman kepada Islam telah mewarisi tugas agung ini dari Muhammad Rasulullah ﷺ, tugas yang diperintahkan Allah SWT untuk diemban dan diadopsi. “Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat sebagian kamu di atas sebagian yang lain beberapa derajat, untuk mengujimu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
Singkatnya; umat Islam membutuhkan kepemimpinan yang lurus dan rasyidah. Kepemimpinan ini bukanlah teka-teki, bukan ilusi, dan bukan khayalan yang menunggu seseorang untuk menemukannya. Sebaliknya, Allah SWT, Rabb semesta alam, telah mengirimkan kepemimpinan ini melalui wahyu-Nya kepada Nabi penutup, dan Rasul terakhir-Nya, Muhammad ﷺ. Kepemimpinan ini bukanlah kepemimpinan spiritual abstrak, bukan filosofis, bukan ilmiah, dan bukan buatan manusia, melainkan manajemen politik urusan manusia dengan Islam itu sendiri (Al-Qur’an dan Sunnah). Oleh karena itu, setiap Muslim, berdasarkan keimanannya, adalah seorang politisi dan negarawan.
Pendiri Hizbut Tahrir, ulama, fukaha, dan politisi Taqiyuddin al-Nabhani (rahimahullah), dalam bukunya Afkar Siyasiyyah (Pemikiran Politik), menggambarkan negarawan dengan perkataannya: “Negarawan adalah pemimpin politik yang kreatif, dan dia adalah setiap orang yang memiliki mentalitas memerintah, mampu mengelola urusan negara dan menangani masalah, serta mengendalikan hubungan khusus dan umum. Inilah negarawan, dan ia mungkin ada di tengah-tengah manusia tanpa menjadi penguasa dan tanpa menjalankan satu pun aktivitas pemerintahan.”
Ini berarti bahwa negarawan (politisi Muslim yang mengemban kepemimpinan visi Islam) bisa jadi merupakan aktor politik aktif, namun ia juga dituntut untuk menjadi pengoreksi (muhasabah) penguasa, bekerja untuk menegakkan kepemimpinan yang menjamin persatuan umat Islam, memperingatkan umat dan seluruh kemanusiaan dari bahaya dan makar sistem kekufuran, serta mengemban risalah bervisi yang mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya, dan dari rawa-rawa menuju puncak kemakmuran. Bahkan, ia menjadi perwujudan praktis dari risalah ini.
Umat dan kemanusiaan telah muak dengan para pemimpin palsu yang merusak, dan mereka layak mendapatkan pemerintahan dan manajemen di bawah cahaya kepemimpinan hakiki, serta layak mendapatkan penyelamatan yang sukses, kedamaian, dan ketenangan dalam naungan kesuksesan yang berkelanjutan.
Agar hal itu terwujud, pertama-tama kita harus menyingkirkan para penguasa peniru yang tidak berdaya, yang berpegang teguh pada ide-ide dan solusi kapitalis alih-alih solusi yang terpancar dari akidah Islam, dan kita harus berusaha menjadi politisi kreatif yang memiliki visi dan saling bahu-membahu di antara kita.
Kita juga harus menyingkirkan pikiran-pikiran yang terbelenggu yang tidak mampu mengelola urusan dalam dan luar negeri secara independen dari produk dominasi kolonial Amerika Serikat, NATO, Uni Eropa, dan PBB, sembari mendukung dan memperkuat negarawan yang benar-benar merdeka, yang mendirikan negara yang memerintah dengan kebebasan visi Islam yang hakiki sebagaimana ditentukan oleh hukum syariat.
Kita harus bekerja untuk membina negarawan yang memiliki “rasa tanggung jawab” dan “visi kepemimpinan” yang terpancar dari akidah Islam dalam menyelesaikan masalah umat dan kemanusiaan. Pekerjaan ini tidak berada kecuali dalam kemampuan sebuah struktur, yaitu partai politik yang didirikan di atas batasan dan perintah Allah SWT. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.”
Situasi dunia dan umat Islam saat ini tidak akan berubah dengan solusi parsial, melainkan dengan perubahan mendasar (radikal). Perubahan mendasar ini dicapai melalui partai-partai politik Islam yang berbasis pada pemikiran Islam, yang mengadopsi visi dan ide-ide Islam, serta bekerja dengan hukum-hukum syariat Islam. Itu karena kepemimpinan harus didasarkan pada ide, bukan pada individu; karena ketika individu berubah, ide tetap konstan. Manhaj para politisi bervisi dalam partai yang bervisi adalah manhaj Rasulullah ﷺ, yaitu bekerja dengan manhaj kenabian. Dan karena partai ini serta para politisi/negarawan ini mengambil prinsip-prinsip mereka dari Al-Qur’anul Karim, maka hal itu memungkinkan untuk memantau pekerjaan mereka dengan cermat, mengoreksi mereka, dan memperbaikinya dengan mudah sesuai Al-Qur’an dan Sunnah saat diperlukan. Mereka tidak mengatakan kecuali: “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan bashirah (hujjah yang nyata), Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.”
Kesuksesan adalah fakta yang berakar dalam DNA keimanan. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”
Kata “syuhada” (saksi) di sini menggambarkan tugas paling penting bagi politisi bervisi. Makna lain dari kata saksi adalah “mengawasi seseorang”. Berdasarkan hal itu, Allah SWT memberikan tugas mengawasi seluruh umat manusia kepada umat Islam. Dengan demikian, Allah SWT ingin umat ini memiliki kemampuan untuk memimpin seluruh umat manusia. Dan apa yang mencegah umat Islam dari penyimpangan dan pelanggaran adalah kesaksian Rasulullah ﷺ atas umat Islam, yaitu pemeliharaan dan pemantauan beliau terhadap umat. Rasulullah ﷺ telah menjalankan tugas ini atas umat Islam dengan menyampaikan wahyu dan menerapkannya, serta meninggalkan warisan bagi umat yang harus dijaga dan dipelihara hingga hari kiamat. Singkatnya, seluruh umat manusia sangat membutuhkan kepemimpinan umat Islam yang rasyidah, dan mereka merindukannya. Menegakkan kepemimpinan ini adalah janji dari Allah SWT dan kabar gembira dari Rasulullah ﷺ.
Kesimpulannya, tidak perlu ada pesimisme bagi seorang mukmin. Sebaliknya, bagi kita sebagai mukmin yang memiliki visi, inilah saat yang tepat untuk bekerja dengan tekad dan kesungguhan yang maksimal, lebih dari sebelumnya. Fajar baru sedang menyingsing bagi dunia ini. Sekaranglah saatnya bagi para pahlawan “Umat Pertengahan” yang menjadi saksi untuk menyibak tirai dan membuka jendela lebar-lebar agar angin pagi dapat masuk. Merekalah pemilik visi sejati yang akan mewujudkan perubahan nyata yang sukses.
Oleh : Zahra Malik
Diterjemahkan dari : HT Info
