Skip to content

Visi Muslim Media

Referensi Islam Kaffah

Menu
  • Home
  • Soal Jawab
  • Ta’rifat
  • Hadits
  • Khazanah
  • Tafsir
  • Sosok
  • Nafsiyah
  • Syariah
  • Sirah
  • Zikir dan Doa
Menu
Utbah bin Ghazwan bin Harits bin Jabir dari Bani Mazin, ia termasuk barisan orang-orang yang masuk Islam di awal waktu

Sahabat yang Mulia, Utbah bin Ghazwan Radhiyallahu ‘anhu…

Posted on February 18, 2026February 18, 2026 by admin

Di barisan para pendahulu yang pertama (as-sābiqūn al-awwalūn), bersinar nama ‘Utbah bin Ghazwān radhiyallāhu ‘anhu, lelaki yang membawa obor dakwah pada hari-hari awalnya. Ia merasakan bersama Rasulullah ﷺ pahitnya pengepungan di Syi‘ib Abi Thalib, dan turut serta dalam saat-saat sulit ketika para sahabat dikejar di jalan-jalan Makkah dan disiksa agar mereka berpaling dari agama mereka. Namun ia tidak mundur dan tidak ragu, bahkan tetap teguh laksana gunung yang menjulang.

‘Utbah menjalani fase penindasan dengan seluruh rinciannya: lapar, takut, dan pendustaan dari Quraisy, hingga suatu hari ia berkhutbah kepada penduduk Bashrah seraya mengingatkan: “Sungguh aku pernah menjadi orang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullah ﷺ, kami tidak memiliki makanan kecuali daun-daun pohon…,” sebagai isyarat kepada tahun-tahun kelaparan dan pengepungan. Itu adalah hari-hari yang tampak kelam, tetapi ia melahirkan laki-laki yang tidak dapat ditukar dengan seluruh emas bumi.

Tahun-tahun pun berlalu hingga ‘Utbah berhijrah ke Madinah. Ia berpindah bersama saudara-saudaranya dari fase penindasan menuju fase peneguhan kekuasaan; dari dikejar di Makkah menuju mendirikan negara di Madinah. Kemudian ia turut serta dalam Perang Badar, Uhud, Khandaq, dan lainnya, menyaksikan bahwa kemenangan bukanlah pemberian tanpa harga, melainkan buah dari kesabaran, keteguhan, dan jihad.

Ketika wilayah-wilayah penaklukan meluas, ia bukan lagi pemuda yang disiksa dan dikejar di Makkah, melainkan menjadi pemimpin dan prajurit dalam negara Islam. Hingga ‘Umar bin al-Khaththab mengangkatnya sebagai gubernur Bashrah, untuk mendirikan di sana sebuah kota yang menjadi basis militer dan politik bagi negara yang masih muda. Ia tidak membangun pasar untuk keuntungan, tetapi membangun sebuah kota dan barak militer yang darinya pasukan diberangkatkan dan urusan dakwah diatur. Demikianlah ia memahami bahwa pembangunan adalah sarana untuk mengemban risalah, bukan tujuan duniawi semata.

Meski demikian, hatinya tetap zuhud dan takut terhadap fitnah dunia. Ia berkhutbah di hadapan manusia seraya memperingatkan:

“Amma ba‘du, sesungguhnya dunia telah memberi tanda akan berakhir dan berlalu dengan cepat. Tidak tersisa darinya kecuali sedikit, seperti sisa air dalam bejana yang dituangkan salah seorang dari kalian. Dan sungguh kalian akan berpindah darinya menuju negeri yang tidak akan lenyap. Maka berpindahlah dengan membawa apa yang ada di sisi kalian — yakni kebaikan. Telah sampai kepadaku bahwa sebuah batu dilempar dari tepi Jahannam, maka ia tidak mencapai dasarnya selama tujuh puluh tahun. Demi Allah, sungguh ia akan dipenuhi. Apakah kalian heran? Dan telah disebutkan kepadaku bahwa jarak antara dua daun pintu surga adalah perjalanan empat puluh tahun, dan sungguh akan datang suatu hari ia penuh sesak oleh manusia. Dan sungguh aku pernah menjadi orang ketujuh dari tujuh orang bersama Rasulullah ﷺ, kami tidak memiliki makanan kecuali daun pohon hingga luka sudut-sudut mulut kami. Aku pernah mendapatkan sehelai kain, lalu aku membaginya antara aku dan Sa‘d; aku bersarung dengan setengahnya dan Sa‘d pun bersarung dengan setengahnya. Tidak ada seorang pun dari kami yang hari ini masih hidup kecuali ia telah menjadi pemimpin atas suatu wilayah. Dan aku berlindung kepada Allah dari menjadi besar dalam pandanganku sendiri namun kecil di sisi Allah. Dan sungguh tidaklah kenabian itu ada melainkan akan berganti hingga akhirnya menjadi kerajaan. Kalian akan menguji para pemimpin setelah kami.” Ia mengingatkan bahwa tujuan bukanlah mengumpulkan kenikmatan, melainkan menolong agama.

Demikianlah, ‘Utbah berpindah dari pengejaran di Makkah menuju kepemimpinan di Bashrah; dari kelaparan di Syi‘ib menuju pengelolaan Baitul Mal; dari penindasan menuju peneguhan kekuasaan. Inilah kisah seorang lelaki yang mewujudkan sunnatullah dalam dakwah: kesabaran dan keteguhan menuju kemenangan dan peneguhan.

Apakah kita mengambil pelajaran?

Sesungguhnya jalan menuju peneguhan hari ini tidak lebih pendek daripada jalan yang ditempuh ‘Utbah dan saudara-saudaranya. Ia adalah jalan kerja, kesabaran, dan jihad politik yang berprinsip, hingga Allah menjadikan umat ini berkuasa dengan Khilafah Rasyidah di atas manhaj kenabian.

Maka jadilah engkau ‘Utbah di zaman ini…

Teguh menghadapi tekanan, sabar atas penyempitan, dan bekerja untuk menegakkan negara, hingga Allah menjadikan bagimu dan bagi umatmu jalan keluar, dan kepemimpinan Islam kembali memimpin manusia sebagaimana dahulu dipimpin oleh ‘Utbah dan saudara-saudaranya. []

Penulis : Ustadz Muhammad Masyhur

Post Views: 11
Category: Sosok

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Popular Post

  • Silsilah Nasab Anak-Anak Nabi Ismail Alaihis-Salam
  • Makna “Antum A’lamu Bi Amri Dunyakum”
  • Peringatan Bagi Pemburu Dunia
  • Menghidupkan Tanah Mati
  • Kewajiban Memuliakan Wanita
  • ‘Ashabiyah: Haram dan Menjijikkan
  • Lâ Tabi’ Mâ Laysa ‘Indaka -Jangan Engkau Jual Apa yang Bukan Milikmu-
  • Penguasa Ruwaibidhah dalam Hadits Nabi
  • Apa yang Dimaksud dengan Zat Allah?
  • Prasyarat Pemahaman Politik dan Perumusan Kebijakan (4)
© 2026 Visi Muslim Media | Powered by Minimalist Blog WordPress Theme